Review Film 3 Nafas Likas, "Orang Biasa" yang Luar Biasa

Posted by Ans


Review Film 3 Nafas Likas - Menonton film '3 Nafas Likas' ibarat menjalani sebuah kencan buta. Begitu minim informasi dan promosi dari film ini, sehingga penonton memasuki gedung bioskop nyaris tanpa bekal apapun. Ini film tentang apa, ceritanya apa? Belum lagi soal judul yang terus terang saja aneh (apa perlu disebutkan juga bahwa posternya pun buruk?). Ketika layar dibuka dan muncul seorang ibu yang sudah hampir sepuh, anggun dan berwibawa, penonton baru tahu, Likas itu nama orang. Ya, nama si ibu itu, yang akan menuturkan kisahnya kepada seorang wartawan yang akan menuliskan buku biografinya.

Kisah dimulai pada masa kecil di Sibolangit, Sumatera Utara pada 1937. Likas Tarigan (Tissa Biani Azzahra) adalah gadis cilik yang tumbuh di antara kenakalan anak-anak lelaki sebayanya di sebuah kampung ladang tepi gunung. Sebagai murid yang pintar, ia kemudian berencana menempuh pendidikan sekolah guru di kota. Keberatan dari sang ibu (Jajang C Noer) yang tak ingin ditinggalkan anak-anaknya, membuat Likas jadi maju-mundur. Namun sang ayah (Arswendi Nasution) berpikiran maju dan justru mendorong anak gadisnya itu untuk memantapkan niatnya melanjutkan sekolah.

Alur kemudian bergulir manis dan lancar mengikuti perjalanan hidup Likas. Setelah lulus, Likas (dewasa diperankan Atiqah Hasiholan) ditempatkan di Pangkalan Berandan namun kedatangan tentara Jepang kemudian mengacaukan semuanya. Mengikuti arus kehidupan yang tak menentu, nasib mempertemukan Likas dengan tentara PETA bernama Djamin Gintings (Vino G Bastian). Setelah Indonesia merdeka, mereka pun menikah. Tapi, kedatangan kembali tentara Belanda yang membonceng sekutu memporak-porandakan impian mereka akan rumah tangga yang tenang dan damai.

Panggilan tugas pun memisahkan mereka. Djamin ditempatkan di Aceh, dan Likas ikut bersama mertua. Atas saran sang ibu mertua pula, akhirnya Likas menyusul suaminya ke Aceh. Di sana ia membuka sekolah darurat di tepi sungai, di tengah perang. Adegan demi adegan terpapar dengan runtut, dan enak diikuti. Tapi, sampai di sini, penonton barangkali mulai bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya orang-orang ini? Likas, Jamin Ginting, siapa mereka?

Sebagai sebuah film biopik, '3 Nafas Likas' tampil begitu bersahaja, namun penuh wibawa. Penulis skenario Titin Watimena menggunakan teknik kilas balik untuk membingkai cerita. Hasilnya memberikan efek kejut yang lebih maksimal pada setiap perkembangan episode perjalanan hidup tokoh-tokoh utamanya. Rako Prijanto yang sebelumnya mengerjakan film jenis serupa, 'Sang Kiai' yang mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai sutradara terbaik, kali ini berhasil mengemas film ini lebih fokus, solid dan utuh.

Atiqah Hasiholan mencapai penampilan terbaiknya dalam film ini, meskipun Vino tak mampu mengimbanginya dengan setara. Make-up yang buruk pada Vino mungkin mempengaruhi kesan penonton, namun secara artikulasi pun suaranya sering tak jelas, sehinga dialog yang diucapkannya luput tak tertangkap. Arswendi Nasution memberi porsi yang pas sebagai seorang ayah yang berpikiran maju, dan selalu punya kearifan tersendiri dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anaknya. Jajang C Noer yang nyaris selalu ada di setiap film Indonesia, kali ini perlu mendapat pujian khusus untuk caranya mengekspresikan perasaan "lebih baik mati saja ketimbang merelakan anak gadisnya pergi ke kota untuk sekolah"; cemerlang dan tak akan terlupakan. Tapi, juaranya adalah Tissa Biani yang begitu natural namun bertenaga menghidupkan karakter bocah cerdas di masa pra-kemerdekaan di luar Jawa.

Secara umum, adegan demi adegan dalam film ini memang terangkai dengan indah, serba menyenangkan. Humor dan drama berpadu dalam dialog-dialog yang fresh, steril dari klise. Musiknya pun smooth dan tak mendikte emosi, sebaliknya justru memperkuat setiap suasana yang hendak dihadirkan. Di atas semua itu, silakan tunggu adegan ketika Likas dan Djamin pindah ke Jakarta, dan sampai pada episode ketika bangsa ini harus menghadapi peristiwa berdarah G30S. Likas yang gelisah mencoba mencari informasi mengenai suaminya yang telah menjadi perwira tinggi di Angkatan Darat. Sampai akhirnya ia tersambung dengan salah satu pengawal sang suami. Apa katanya?
"Siapkan saya panser, dan antarkan saya ke rumah Soebandrio." Di seberang sana, yang diajak bicara lewat telepon itu dengan enteng membalas. "Bu, panser buat apa? Ibu tahu nggak siapa Pak Soebandrio?" "Ya, tahulah! Menteri luar negeri!" bentak Likas. "Siapkan saya panser!" ulangnya lebih keras tanpa kompromi.

Jadi, siapakah orang-orang ini? Siapa pasangan suami-istri Likas Tarigan dan Djamin Gintings ini? Semakin sedikit informasi yang Anda tahu, semakin nikmat dan penuh kejutan menonton film ini. Dalam buku sejarah bangsa besar ini, Likas, juga Djamin mungkin orang biasa, kalau dibandingkan dengan nama-nama besar seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, ataupun tujuh Pahlawan Revolusi. Tapi, "orang biasa" pun bisa memiliki jalan hidup yang luar biasa, seperti telah dengan sangat baik dituangkan dalam film ini. Film yang dengan berani mengangkat "sejarah lokal" yang melibatkan orang-orang yang bukan seleb dan bukan bintang dalam sejarah; bukan orang yang ketika disebut namanya siapapun pasti tahu.

Film ini mengingatkan, bahwa di sekitar tokoh-tokoh besar yang dikenal masyarakat, selalu ada orang-orang hebat seperti Likas, Djamin dan orang-orang "biasa" lainnya, yang sebenarnya memiliki peran dan sumbangan yang tak kalah penting dalam sejarah politik dan sosial bangsa ini. Satu hal yang perlu ditambahkan, film ini adalah sebuah biopik yang tak terjatuh menjadi panggung selebrasi bagi tokoh(-tokoh) yang diangkatnya. Tidak seperti film sejenis yang biasanya tak mampu menahan godaan untuk narsis, film ini begitu tenang dan rendah hati. Sehingga penonton semata-mata seperti didongengi (lewat penuturan Likas tua yang diperankan dengan khidmat oleh Tuti Kirana) dengan sebuah cerita yang menarik, dan menggugah perenungan tentang makna hidup. (IsMujiarso/detikhot)


Blog, Updated at: Saturday, October 18, 2014

0 komentar:

Post a Comment