Mengintip Kehidupan Imigran Gelap di Rumah Komunitas Medan

Posted by Ans

Mengintip Kehidupan Imigran Gelap di Rumah Komunitas Medan - Rumah komunitas adalah rumah penampungan dengan konsep baru untuk pencari suaka dan pengungsi dari Timur Tengah dan Asia. Sambil menunggu kabar dari UNHCR untuk mendapatkan suaka, mereka pun membangun kehidupan di rumah komunitas.

Setiap rumah komunitas berbentuk wisma atau hotel yang disewa oleh sebuah kantor imigrasi. Sehingga tak akan tampak teralis atau aturan ketat di rumah komunitas, selain peruntukan satu rumah komunitas khusus pria, wanita atau keluarga. Para penghuninya pun hidup normal.

Seperti yang tampak di Wisma Rajawali, Medan, Sumatera Utara, Jumat (20/6/2014). Rumah komunitas khusus wanita ini diisi oleh para pencari suaka dan pengungsi dari Somalia, Afganistan dan Irak. Seorang wanita asal Somalia di rumah komunitas ini melahirkan anaknya.

Kisah persahabatan 2 gadis kecil asal Irak dan Afganistan pun terjalin di rumah komunitas ini. Di negara asalnya, hal tersebut tidaklah mungkin karena adanya konflik perang saudara. 2 Gadis kecil itu bernama Mariam (12) dan Zahwa (8), keduanya terus berduaan selama menyaksikan kunjungan dari Humas Ditjen Imigrasi.

Sementara para wanita dewasa tampak berkumpul di ruangan utama yang terhubung dengan dapur dan musala. Mereka tampak kebingungan dengan hadirnya banyak petugas imigrasi di rumah komunitas itu, karena biasanya hanya ada beberapa petugas untuk melakukan pendataan dan pengawasan.

Kemudian rombongan menuju rumah komunitas khusus pria, tak jauh dari Wisma Rajawali. Rumah komunitas khusus pria itu lebih menyerupai penginapan 3 lantai dengan puluhan kamar. Para imigran di rumah komunitas ini hobi bermain futsal sehingga tempat penampungan mereka tak jauh dari sebuah lapangan futsal.

"Ya, kami suka bermain sepakbola di lapangan futsal di belakang penampungan ini," kata salah satu pencari suaka asal Afghanistan bernama Hanif.


Menurut Hanif, mereka tinggal di rumah komunitas untuk menunggu proses suaka dari UNHCR. Hanya saja, waktu menunggu terlalu lama sehingga ia belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari rekannya.

"Saya di Indonesia sudah 3 tahun, sebelumnya saya ditangkap di Lampung, dibawa ke Bogor, lalu dibawa ke Makassar, setelah itu saya ditempatkan di Tanjung Pinang dan 8 bulan lalu petugas imigrasi membawa saya ke sini," ujar Hanif.

Alasan Hanif mencari suaka karena masih ada teror dan perang dari negara asalnya. Lalu alasan ia tak memiliki dokumen imigrasi karena sekelompok orang yang menyelundupkan dirinya menahan dan tak mengembalikan paspor dan visa.

"Penyelundup di Afghanistan selalu mengambil paspor kami ketika kami ingin ke Pakistan. Saya datang ke Indonesia melalui Malaysia menggunakan kapal dan tiba di Tanjung Balai," kata Hanif.

Selain bermain futsal dengan sesama rekannya, Hanif berbagi piket masak, kebersihan, laundri, dan sebagainya. Mereka tidak diizinkan keluar rumah komunitas kecuali dalam radius tertentu.

"Saya punya keluarga di Pakistan, ya saya merindukan mereka. Tapi di sini kita punya internet dan ponsel, jadi kita masih bisa menghubungi keluarga," kata Hanif.

Rombongan pun meninggalkan rumah komunitas khusus pria yang dihuni warga negara Afghanistan dan Irak itu, menuju rumah komunitas khusus keluarga. Saat rombongan tiba, ada kunjungan kerabat untuk salah satu penghuni rumah komunitas. Suasana di rumah komunitas khusus keluarga lebih hidup karena banyak anak kecil berwajah lucu.

sumber: detikcom


Blog, Updated at: Saturday, June 21, 2014

0 komentar:

Post a Comment