Sejarah Batu 12, Kelurahan Kemenangan Tani Medan Tuntungan

Posted by Permata Ginting

Karang Taruna Kemenangan Tani Tampil di Lapangan Merdeka Medan
MaWarTaCJ - Dimasa Jajahan Belanda, kemenangan tani masih belantara dan masih belum ada penduduk yang menghuni daerah ini. Daerah yang sudah berpenghuni adalah daerah Pancur Batu yang dahulu disebut Belanda dengan Ermania. Belanda mengambil keuntungan dengan menjadikan daerah ini menjadi daerah perkebunan mereka serta merupakan lintasan kereta api milik Belanda Deli Spoorweg Maatschappij dan memiliki stasiun di ermania.

Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) adalah perusahaan swasta Belanda yang memiliki izin konsesi membangun jaringan kereta api. Pembangunan jalur kereta api semula diperuntukkan sebagai sarana transportasi hasil perkebunan seperti tembakau deli, karet, coklat, dan kelapa sawit. Berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal Belanda, tanggal 23 Januari 1883 permohonan konsesi pemerintah Belanda untuk pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Belawan – Medan – Delitua – Timbang Langkat (Binjai) direalisasikan.Baca Deli Heritage Club
 

Nah kita Kembali Ke pinggiran Kota Medan.....hhe..
Berdasarkan kisah hidup Seorang Pejuang Veteran yang masih Hidup dan tinggal di kemenangan tani mengatakan bahwa dahulu beliau dengan 50an orang datang ke Batu 12 yang masih dikuasai oleh belanda dan ditanami pohon tembakau serta pohon karet guna melakukan pemberontakan. Mereka bertempur dan menurut bulang(Kakek) ini mereka memenangkan pertempuran tetapi belum menguasai wilayah secara keseluruhan.

Masa Belanda menguasai daerah ini, kemenangan tani masih dinamai dengan batu dua belas. Batu 12 tepatnya sekarang adalah Simpang Pencawan. Dikatakan Simpang Pencawan Karena Berdirinya Yayasan Pencawan di Kemenangan Tani. 

Acara Silaturahmi Se Kecamatan Medan Tuntungan
Batu 12 diambil dari Kilometer 12 dengan titik Nol Kilometer di Balai Kota. Kilometer 12 berganti menjadi Batu 12 karena Kebanyakan penduduk yang berdomisili di Kilometer 12 adalah Suku Karo sehingga pengucapannya menjadi Batu 12 yang didukung oleh adanya Batu Petak dan Panjang yang ditancapkan ketanah dengan Tulisan Km.12 yang dahulu posisinya Tepat di Gang Tapin Kuta beberapa meter dari Simpang Batu 12. dan sejak saat itu simpang tersebut dinamai menjadi Simpang Batu DuaBelas. Saat ini Batu Batas tersebut sudah tidak kelihatan lagi dan Batu Dua Belas juga semakin sedikit yang tau karena sudah beralih nama menjadi simpang pencawan.(sangat disayangkan)

Pasca Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 dikumandangkan Pusat, hampir semua daerah tersulut semangat untuk merdeka termasuk masyarakat yang ada disekitar batu dua belas. Masyarakat yang pada umumnya adalah bertani dan bekerja di areal perkebunan belanda semakin bersemangat untuk melakukan pemberontakan yang akhirnya terjadilah Agresi ke 2 yang terjadi dibeberapa wilayah dikota medan.

Hingga Tahun 1950 beberapa wilayah sudah dikatakan aman dengan perjanjian yang ada oleh tokoh adat setempat dengan pihak belanda. Batu 12 berubah Nama menjadi Desa Kemenangen Tani pada tahun 1950 dengan Kepala Desa Pertama adalah Kata Lemo Bangun atau dikenal masyarakat dengan Pa Renggo, lalu setelah periode pa renggo digantikan dengan Akim Singarimbun atau Pa Dolat, Lalu Bapa Nina Sinulingga, setelah itu Rapat Barus atau Pa Rait dan kepala Desa terakhir dijabat Oleh Suruhen Ginting atau Bp Abel.

Masa Kepala Desa dijabat oleh Bapa Abel Ginting terjadi peralihan pemerintahan dari Desa menjadi Kotamadya dan Kepala desa dihapuskan dan jadilah sebuah pemerintahan KotaMadya dengan Pimpinan Tingkat Kelurahan dinamai Kepala Kelurahan atau Lurah. ==Bersambung==

Curhatan Redaksi : Investigasi Kami ini, Karena kami Perduli dengan Wilayah Kediaman Kami. Semua yang kami Tuliskan diatas adalah hasil percakapan langsung dengan beberapa orang tua terdahulu yang mana beliau sendiri juga menyimpulkan sangat disayangkan tidak adanya pencatatan buku sejarah tentang daerah ini. Ada lima orang narasumber hidup kami dilapangan tapi kata mereka percuma kami cerita tapi tidak ada dukungan untuk mengabadikannya menjadi sebuah fakta daerah karena bukti-bukti kita sudah tidak tau dimana. Tulisan ini beranjak dari pengalaman dan tentu saja Literaturnya masih simpang siur. Mengapa kami katakan simpang siur karena kami disuruh ke Belanda untuk mendapatkan data valid atas wilayah Kelurahan Kemenangan Tani dimasa penjajahan. Saat ini kami juga sedang menyusun Sejarah Simpang Gereta Lembu yang sekarang adalah Simpang Rumah Sakit Adam Malik, Sejarah Tapin Kuta dan hal menyangkut Kelurahan Kemenangan Tani.  (PAG/AS/AZT/VAT/EPS/FT/SegenapKarangTarunaKelurahanKemenanganTaniKecamatanMedanTuntunganKotaMedan)
Karang Taruna..............Kerja Keras


Blog, Updated at: Thursday, December 04, 2014

0 komentar:

Post a Comment