Pendidikan Adalah Solusi Atas Permasalahan di Tanah karo

Posted by Permata Ginting

Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral, kata Pembuka dalam sambutan Menteri Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2015 ini sungguh sangat luar biasa dan mungkin hanya sebagai kiasan angin lalu saja bagi sebagian pembacanya. 

Beranjak dari ungkapan seorang Bapak dikedai kopi yang sekarang lebih dikenal sebagai warkop tentang Universitas Karo yang menurut beliau adalah kegagalan terbesar Masyarakat Karo Abad ini. Jika dipantau dari sejarah, Sekolah pertama di dataran tinggi Karo, dibuka pada 19 Oktober 1891 untuk belajar membaca dan menulis di desa Buluh Awar dan setelah sekitar 40 Tahun Kemudian lahirlah Sarjana Karo yang pertama bernama Jaga Bukit putra Pa Suro dari Tiga Panah menjadi mahasiswa RHS di Jakarta setelah lulus AMS Jakarta tahun 1936.(berarti beliau jadi sarjana sekitar tahun 1940an).

Lalu pada tahun 1986 (40tahun kemudian lagi) beberapa tokoh masyarakat Karo mendirikan Universitas Karo di Kabanjahe yang mengelola 5 (lima) Fakultas berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang mana pada Tahun 2008 Nama UKA berubah menjadi quality dan dilakukan perubahan yang MENDASAR terhadap UKA.

Dari informasi ini, tentunya ada rasa bangga selaku suku karo ketika Universitas Karo tersebut berdiri, tetapi kenyataannya rasa bangga masyarakat karo itu tidak diwujudnyatakan dengan mengilhami betapa pentingnya pendidikan untuk bekal kemajuan dimasa yang akan datang.

Lambatnya Kemajuan Pendidikan di Tanah karo menjadikan ragam bencana yang dihadapi kini, jika kita perhatikan Tanah Karo sepertinya hanya menjadi Bahan atas bencana yang ada.

Bencana Flu Burung.
Bencana yang hampir seluruh masyarakat karo yang berternak menjadi korbannya. Kenapa bisa korban karena minimnya pengetahuan (PENDIDIKAN) beternak serta akan informasi flu burung, padahal masyarakat karo sudah mengenal gejalanya flu burung dengan istilah manuk bernungen dan punya resep dan obat tradisional sendiri untuk mencegah dan mengobatinya.

Bencana Lalat Buah
Bencana yang satu ini hampir semua petani karo khususnya petani jeruk gagal panen. Ini juga karena minimnya pengetahuan (PENDIDIKAN) akan hama tersebut dan kurangnya pemahaman akan bertani..

Bencana Narkoba.
Bencana yang satu ini sungguh sangat cepat menyebar dikalangan generasi muda yang mana semakin merusak citra Tanah Karo. Rendahnya pemahaman (PENDIDIKAN) akan narkoba mengakibatkan banyaknya generasi muda yang mau mencoba sekedar coba-coba dan akhirnya keterusan.

Bencana Politik. 
Bencana ini sungguh sangat disayangkan. Masyarakat menjadi korban para eksekutif maupun legislatif. kenapa hal ini terjadi, tentu karena partai politik dan orang yang paham politik gagal memberikan pemahaman (PENDIDIKAN) Politik kepada masyarakat dan tak jarang mereka justru menjadikan masyarakat itu kaperlek (kapan perlu pakek)

Bencana Alam. 
Minimnya Pemahaman (PENDIDIKAN) pengantisipasian dan penanggulangan atas gunung sinabung menjadikan masyarakat juga sebagai korban terbanyak.

Bencana Pariwisata
Keindahan dan Kesejukan akan Dataran Tinggi Karo bukanlah isapan jempol belaka, tetapi karena kurangnya pemahaman (PENDIDIKAN) akan memanfaatkan keindahan alam ini menjadikan pariwisata di Tanah Karo redup berlahan-lahan.

Bencana Moral. 
Ini yang bahaya, Masyarakat Karo memiliki sangkep geluh yaitu Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu,  dan Perkade-kaden Sepuluh Dua Tambah sada. sangkepgeluh ini adalah identitas Karo yang merupakan beban dipundak setiap orang suku karo. Ketika semua ini semakin terlupakan maka hasilnya sesama kita akan tidak saling menghargai lagi. BUMI TURANG akan Hilang. Kurangnya kepedulian setiap generasi untuk memberikan pemahaman (PENDIDIKAN) kepada Generasi berikutnya adalah ancaman terbesar Suku Karo.

Masih banyak bencana lain yang akar masalahnya adalah Pendidikan yang tidak maksimal. Jika saja semua dan segenap elemen karo yang ada satu visi dan misi untuk Pendidikan di Tanah Karo bukan tidak mungkin 10 Tahun yang akan datang salah satu Masyarakat Karo bisa menjadi orang No 1 di Republik ini.

Tulisan ini adalah Refleksi Dari HARDIKNAS 02 Mei 2015.
Sudahkah Kita Terdidik dan Menjadi Pendidik Bagi Generasi Muda Kita...? (Pemred www.mawarta.com)


Blog, Updated at: Saturday, May 02, 2015

0 komentar:

Post a Comment